Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

Setujukah bila saat ini terjadi pergantian Pelatih dan penambahan Striker di tubuh Team PSS SLEMAN?




Home » News

ELANG JAWA SI BURUNG GARUDA

20 December 2001

“Si Elja maskot Slemania dalam sekapur sirih”
Garuda yang menjadi mitologi dalam cerita rakyat Indonesia, dikenal sebagai kendaraan Sang Wisnu dalam kitab Adiparwa. Cerita Garuda ini merupakan pelajaran, yang menceritakan mengenai ‘moksa’ atau pembebasan akhir, yang dilambangkan oleh air kehidupan yang hanya dicapai dengan ketabahan kita dalam membebaskan diri dari ikatan duniawi yang dilambangkan sebagai naga.
Air kehidupan tirta amerta yang dibawa oleh Garuda, dalam mitosnya dapat dilambangkan sebagai kekuatan yang tidak pernah akan berakhir. Sementara Garuda tidak pernah mengenal adanya kekalahan ataupun kesalahan, sehingga dilambangkan sebagai kekuatan yang tangguh dan pantang menyerah.

Sering orang menganggap bahwa Garuda yang disimbolkan sebagai lambang negara Garuda Pancasila adalah burung Elang Jawa. Kalau dilihat dari kemiripan, baik itu bentuk tubuh, warna, dan jambul yang menghiasi kepalanya, anggapan itu memang tidak salah. Dan satu lagi, sejak belum ditetapkannya Garuda sebagai lambang negara, burung Elang Jawa yang nama Inggris nya adalah Javan Hawk-eagle sudah menarik perhatian orang sejak ratusan tahun yang lalu. Secara ilmiah Johan Coenraad van Haesselt dan Henrich Kuhl sekitar tahun 1820-an telah memulai penelitian Elang Jawa di Gunung Salak (walaupun kemudian diketahui ternyata spesimen yang mereka pakai ternyata burung Elang Brontok). Kemudian, Max Bartels, seorang pecinta satwa yang bekerja di perkebunan Sukabumi, pada tanggal 30 April 1907 memperoleh seekor elang berjambul yang ditangkap oleh penduduk di perkebunan Gunung Melati, Jawa Barat. Elang tersebut kemudian diawetkan dan dibawa keJerman untuk di identifikasi. Ternyata burung Elang tersebut merupakan suatu jenis sendiri yang lain dari jenis Elang Jawa atau Spizaetus cirrhatus limnatus yang dianggap selama ini.
Untuk menghormati Max Bartels yang telah berhasil ‘menemukan kembali’ Elang Jawa yang sebenarnya ini, Amadon pada tahun 1953 memberikan nama si Elang Jawa ini Spizaetus bartelsi atau Javan Hawk-eagle.

Elang Jawa merupakan salah satu jenis burung besar yang hanya ada di Pulau Jawa (endemik Jawa) . Dapat dijumpai di hutan-hutan primer dan daerah peralihan di dataran rendah dan hutan pegunungan di Jawa, atau lebih khusus lagi di wilayah Jawa bagian selatan. Makanannya adalah burung-burung kecil, bajing hutan, tupai, ular, monyet kecil, dan jenis ayam-ayaman.
Sayangnya, diperkirakan dalam sepuluh tahun nanti kita hanya akan dapat melihat Elang Jawa dari gambar saja. Karena apa ??? Dari tahun ke tahun populasi burung ini semakin lama semakin menurun. Jumlah populasi yang dikemukakan oleh seorang ahli burung Belanda, Bas van Balen (1999), adalah 141-204 pasang di seluruh Jawa. Jumlah ini tidak aman karena setiap pasang tersebar secara berjauhan sehingga kemungkinan incest atau kawin antar saudara tinggi. Incest mengakibatkan telur yang di hasilkan tidak menetas, atau kalaupun menetas pasti terjadi kecacatan pada anaknya. Sebab kepunahan lain adalah semakin berkurangnya hutan sebagai tempat hidup dan perburuan serta perdagangan ilegal yang semakin merajalela. Kadang banyak orang yang menganggap bahwa memelihara burung lambang nasional Elang Jawa adalah bergengsi dan dapat menaikkan status sosial pemeliharanya. Anggapan itu sebenarnya keliru. karena memelihara burung ini justru mempercepat kepunahan simbol negara dan kebanggaan bangsa Indonesia.

Sebagai orang Sleman, kita boleh bangga karena di daerah kita di lereng sebelah selatan Gunung Merapi menjadi tempat hidup sedikitnya 3 pasang burung Elang Jawa. Kalau kita berdiri di gardu pandang Boyong antara jam 09.00-13.00, kita akan dapat melihat burung ini soaring atau melayang-layang dengan gagahnya, kadang-kadang bersama-sama dengan Elang Hitam dan Elang Bido.
Rasanya tidak salah deh kalau Slemania memilih Si Elja atau Si ‘Garuda’ Elang Jawa sebagai maskot. Sesuai dengan mitosnya, burung ini melambangkan keteguhan hati, ketangguhan dan semangat pantang menyerah. Jiwa ini yang kiranya perlu dipetik dan merasuki jiwa seluruh Slemania.
Sebagai Slemania tentunya kita juga harus peduli akan kelestarian Elang Jawa. Bagaimana caranya ?? Sederhana saja, tidak usah membeli atau memelihara Elang Jawa di sangkar, rasa cinta dan bangga toh tidak harus diwujudkan dengan mengurungnya kan ?? Biarkan mereka bebas menunjukkan kegagahannya di alam. Bravo Slemania. (Hartono, Staf Kutilang Indonesia for Bird Conservation, Jl. Tegal Melati 64 A, Jongkang, Sleman).

[ by : Sipey (Slemaniac Tjaboel) ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar