15 June 2004
KINAS tiba-tiba saja menjadi populer, bahkan jutaaan pasang mata di jagat raya ini tertuju ke Portugal. Wajar jika banyak orang, termasuk masyarakat di Indonesia terhipnotis. Di negara tersebut kini tengah digelar perhelatan sepakbola terakbar kedua setelah Piala Dunia.
Kinas merupakan maskot Euro 2004. Dia merupakan sosok anak laki-laki yang jago bermain bola dan diharapkan dapat membawa keberuntungan bagi tuan rumah, di sisi lain bocah yang tertawa lebar ini merupakan kombinasi antara antusiasme, keahlian teknik, menyukai tantangan, dan kecerdasan. Faktor tersebut membuat sepakbola menjadi olahraga terhebat dan terpopuler di muka bumi.
Kejuaraan sepakbola antarnegara Eropa (Euro) bukan kali pertama digelar, bahkan sejak 1960 yang dilaksanakan 4 tahun sekali. Dan, berbicara sepakbola seperti tak pernah ada habisnya.
Di negara-negara maju seperti Italia, Inggris, Jerman, dan lainnya sepakbola seperti agama. Masyarakat di sana begitu fanatik dengan tim dan klub kebanggaannya. Tak heran, jika olahraga yang satu ini begitu populer dan digandrungi. Selain ditunjang dengan manajemen yang baik juga kecerdasan orang-orang di dalamnya, baik dari segi mencari dana maupun pembinaan.
Mereka bukan saja menjadikan sepakbola sebagai sarana kesehatan jasmani tapi juga hiburan dan keuntungan finansial--insdustri.
Klub-klub yang ada misalnya, berani membeli pemain terbaik dari negara lain dengan harga selangit. Tujuannya tak lain keuntungan dari pertunjukkan "sang bintang" di lapangan terutama dalam memproduksi gol kemenangan.
Chelsea (Inggris) dan Real Madrid (Spanyol) merupakan klub terkaya di dunia saat ini. Keduanya merupakan gudang bintang sepakbola. Padahal, harga seorang pemain melebihi gaji presiden di Indonesia. Sungguh profesional.
Untuk menjadi bintang, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, begitu juga membentuk tim atau klub yang tangguh. Harus memiliki keahlian teknik, menyukai tantangan, dan kecerdasan. Semua pihak yang terlibat mengerti betul terhadap tugas yang harus diemban.
Lantas bagaimana dengan di Indonesia. Tak jauh berbeda, gila bola. Dari segi sarana (lapangan) jangan ditanya, mungkin paling kaya di dunia.
Dari segi prestasi? Nah ini yang tak habis pikir. Dari tahun ke tahun bukan makin baik, justru kian terpuruk. Indonesia pernah punya The dream team, lewat salah satu pengusaha, Nirwan Bakrie. Namun, proyek pembinaan pemain muda berbakat tersebut (Primavera) tidak berumur panjang, setelah menjadi tim nasional justru bubar total.
Kuarniawan D. Julianto dkk. seperti anak ayam kehilangan induk. Mereka cukup puas membela klub-klub Ligina, dengan gaji jutaan rupiah dan kalah dibandingkan pemain veteran negara lain yang juga dibeli klub bersangkutan.
Dibandingkan Jepang dan Korea, prestasi sepakbola Indonesia tertinggal jauh. Kedua negara tersebut sudah mampu tampil pada pentas Piala Dunia 2002.
Padahal, dari potensi pemain dan fostur tubuh tidak jauh berbeda. Namun, mereka lebih maju. Ada apa sebetulnya?
Profesional jawabannya. Semua unsur, pengurus, pelatih, pemain, dan penonton di negara-negara sepakbola bertindak profesional. Sama-sama menganggap menjadi pemain sepakbola atau olahragawan profesional.
Dari segi pembinaan, di Indonesia bisa dilihat, belum banyak daerah yang memiliki sekolah sepakbola, terlebih pelatih berkualitas. Kebanyakan mereka hanya mengatahui bola itu "bulat", lebih naif pengurus sibuk mengurus pengurus yang lain.
Di sisi lain, masyarakat juga masih beranggapan menjadi pegawai negeri jauh lebih baik ketimbang pemain sepakbola atau olahragawan profesional. Dapat dihitung jari tangan, orangtua yang mau mengantar, menunggui, dan memberi modal anak-anaknya berlatih olahraga termasuk sepakbola, selebihnya hanya "penonton".
Kondisi tersebut merupakan fenomena tersendiri. Untuk mengejar ketinggalan tersebut membutuhkan waktu lama dan kerja keras semua pihak, pemerintah, dan masyarakat. Dan tak ada salahnya jika pemerintah men-support dana kalangan dunia usaha--pelaku bisnis--yang mengembangkan atau membentuk klub sepakbola, bukan justru "dirusuhi" pengurus maupun oknum-oknum tertentu.
Membisniskan sepakbola justru lebih baik ketimbang mencari bisnis di sepakbola, terlebih jika untuk kepentingan segelintir orang dan sesaat.
Di Eropa, sepakbola menjadi maju lantaran dikelola secara bisnis idustri, bukan amatiran seperti yang ada di Indonesia saat ini.
Tak ada salahnya pula jika pelaku sepakbola di Nusantara ini bercermin dan belajar dengan Kinas, punya skill, berani menghadapi tantangan (berkorban dulu), dan kecerdasan.
[ by : Aris (di ambil dari harian lampung) ]


