28 April 2004
Rona kekecewaan masih terlihat jelas di raut wajah sebagian besar keluarga besar PSS dan Slemania. Kemenangan yang sudah ada di depan mata gagal dipertahankan setelah Persijatim mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat gol Ahyar Ilyas di menit 97. Wasit Chusnul Yakin pun akhirnya diyakini sebagai "perampok kemenangan PSS" oleh seluruh pemain dan official PSS Sleman, begitu pula oleh Slemania. Ditambah dengan adanya sedikit insiden yang terjadi antara Pasoepati dan Slemania, membuat keluarga "hijau" ibarat peribahasa "sudah jatuh tertimpa tangga" saat itu.
Terlepas dari bagaimana kinerja wasit dkk serta bagaimana jalannya pertandingan Persijatim vs PSS, penulis hanya ingin menyoroti insiden 'kecil' yang sempat terjadi di antara Pasoepati dan Slemania. Sebagaimana diketahui sempat terjadi aksi saling melempar botol minuman antara Pasoepati dan Slemania di sela-sela pertandingan. Mengapa itu bisa terjadi???
Padahal sebelum pertandingan dimulai telah dibentangkan sebuah spanduk "Persaudaraan Sleman Solo" yang dilanjutkan dengan atraksi saling bertanya kabar lewat lagu-lagu.
Bukannya mencari kambing hitam, namun dalam hal ini kita perlu menyoroti kinerja panpel sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dengan pelaksanaan pertandingan. Antisipasi kedatangan Slemania yang dilakukan panpel kelihatan sangat minim sekali. Beberapa kesepakatan yang telah dibuat sebelum pertandingan, ternyata tak terlaksana. Wajar jika akhirnya terjadi hal yang sedikit di luar perkiraan.
Sebagai contoh, penempatan Slemania yang seharusnya berada di bagian utara dan tengah tribun timur ternyata berubah menjadi di bagian tengah dan selatan tribun timur yang notabene sangat dekat sekali dengan posisi pasoepati. Jumlah keamanan yang bertugas sebagai pagar betis antara Slemania dan Pasoepati juga sangat sedikit. Padahal menurut perjanjian akan dilakukan pengamanan lapis empat, namun sayangnya pengamanan seperti yang dijanjikan tidak terealisasi dengan baik, malah Bala Slemania dan beberapa anggota Slemania yang bertugas ekstra keras untuk meredam emosi kawan-kawan lainnya saat terjadi aksi pelemparan tersebut.
Namun di luar itu, marilah kita jadikan peristiwa kemarin sebagai "kaca benggala" untuk kembali bercermin pada diri masing-masing. Janganlah lagi saling menyalahkan di antara Slemania dan Pasoepati. Yang perlu dilakukan saat ini adalah bersama-sama saling mengintrospeksi diri dan memperbaiki segala kelemahan yang ada. Slemania dan Pasoepati adalah dua nama besar wadah suporter di Indonesia yang menjadi contoh bagi kelompok-kelompok suporter lainnya. Sudah saatnya Slemania dan Pasoepati memberikan contoh yang baik selain menjaga dan mempertahankan nama besarnya masing-masing dengan menunjukkan prestasi bukan dengan tindakan-tindakan anarki. Suporter Indonesia harus bangkit dan bertumbuh dewasa demi memajukan persepakbolaan nasional. Bravo Suporter Indonesia!!!
[ by : ajoe ]


