07 April 2004
Hiruk pikuk masa kampanye usai sudah dan kini tinggal menunggu masa penghitungan akhir surat suara untuk menentukan siapa yang bakal menang dalam pemilu tahun 2004. Gejolak politik yang sedang hangat ini memancing segolongan orang untuk memanfaatkan massa sebanyak mungkin. Dan itu terjadi pada sebuah kelompok yang mempunyai banyak massa, SLEMANIA.
Tanpa kita sadari, hadirnya mantan petinggi di tubuh PSS yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat pada pemilu ini berimbas pada Slemania. Slemania adalah sebuah suporter yang keberadaannya untuk mendukung dan memajukan cabang olahraga di Jogjakarta telah kehilangan jati dirinya dengan ikut dalam gelanggang politik. Kehadiran Slemania pada masa kampanye setidaknya menjadikan indikasi bahwa slemania secara tegas mendukung salah satu kandidat calon. Padahal semestinya, Slemania harus mampu memisahkan diri,ingat syair khas slemania bukan..??
ya, itulah sebuah realitas.Tidak adanya patokan yang harus membatasi kiprah slemania dalam bergerak maupun bertindak. Namun dari munculnya realitas bahwa slemania terjun ke dalam politik sedikit menuai kecaman dari berbagai unsur.
Dari sisa permasalahan tersebut, kiranya menjadi PR bagi pengurus Slemania untuk memproklamirkan kembali bahwa slemania non partisipan yang tetap eksis pada bidangnya, memajukan dunia olahraga di DIY, bukan turut turun ke gelanggang politik, setuju...??
[ by : aris ]


