05 February 2004
Melihat atmosfer perkembangan sepakbola di negeri kita yang masih saja banyak mengalami hambatan,mampukah timnas PSSI bangkit..? berikut analisa crew web slemania.or.id
Nada optimisme insan sepakbola nasional untuk membangun prestasi timnas kembali harus menelan pil pahit. Ini setelah ijin penyeleggaraan Liga Bank Mandiri harus kembali berhadapan dengan aparat keamanan, POLRI. Sejauh ini, memang masih simpang siur, apakah kompetisi akan terus berjalan, atau harus di istirahatkan hingga masa kampanye pemilu berakhir. Ironis memang. Di saat gencar-gencarnya ketua umum PSSI, Nurdin Khalid menjalankan programnya untuk mencapai sebuah program, di pihak lain ada saja ganguan yang terus menghantui pengurus PSSI.
Awalnya, kita boleh bangga dengan terpilihnya bung Nurdin Khalid untuk menakhkodai “kapal”sepakbola indonesia. Bicara tegas, lantang dan cerdas penuh optimisme di waktu “kampanye” menyampaikan visi misi sebagai kandidat ketua umum PSSI, menjadikan insan sepakbola nasional menaruh simapati pada sosok indivisunya.
Tetapi belakangan kita pun harus bertanya, akan di apakan sepakbola kita..?? sejauh ini belum terlihat kinerja apik yang di bangun oleh kabinet “anyar”ini. Malahan sebaliknya, kita dapatkan beberapa ganjalan yang harus segera di benahi untuk menyongsong timnas bangkit, salah satunya adalah tentang pengaturan jadwal kompetisi. Salah satu yang paling urgen dalam membina prestasi adalah dapat di lihat dari jadwal yang teratur di sebuah kompetisi. Tengok misalnya kompetisi-kompetisi yang di bangun di negara tetangga. Jepang, Cina yang dulunya masih anak bawang, kini malahan menjadi “guru” bagi sepakbola kita. Akankah sepakbola kita bisa sejajar dengan mereka..? andai saja itu terjadi di perlukan waktu yang teramat panjang, melihat masih berantakannya “sistem” di negara kita.
Tengok saja. Baru-baru ini Kapolri Jendral Da’i Bachtiar merevisi izin penyelenggaraan Liga Indonesia. Awalnya, pihak kepolisian memberi izin untuk di gelarnya LI pada 4 Januari hingga 26 Maret dan bergulir lagi setelah berlangsungnya pemilu. Tetapi belakangan, izin itu di revisi dengan mengijinkan liga hingga awal bulan Maret, tepatnya tanggal 9 Maret selama masa kampanye parpol.
Sepakbola adalah hiburan rakyat yang sudah mendarah daging dan mengendap di benak individu masyarakat. Sepakbola adalah alat pemersatu bangsa. Dari sepakbola terjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi anehnya, pihak polri masih belum bisa menerima argumen itu. Apakah tidak bisa jika kompetisi terus di langsungkan di tengah masa kampanye ? apakah kekhawatiran mengenai kerusuhan kampanye akan berimbas ke arena olahraga..? Bukankah lewat sepakbola massa akan kembali menyatu, duduk bareng memberi dukungan kepada tim nya ? Yang jelas waspada itu perlu, untuk itu di tuntut sikap kearifan semua pihak, termasuk diri kita, suporter Indonesia.
Dari fenomena semacam itu, tidak berlebihan bila di katakan sepakbola Indonesia masih jalan di tempat, sepakbola kita masih harus menunggu teramat lama untuk bisa tampil “mentas” ke pentas dunia. Pencanangan PSSI untuk bisa mewujudkan timnas di PD 2008 tentu hanya sebuah mimpi. Mimpi bisa terwujud, jika PSSI konsisten dalam pembinaan. Nyaris, dewasa ini tidak ada sistem pimbinaan yang jelas. Sejak tidak di teruskannya proyek emas primavera dan baretti kini PSSI hanya mengandalkan pembinanan lewat kompetisi Liga. Akankah ini bisa menjawab tantangan insan sepakbola untuk bisa bangkit..? tunggu saja janji PSSI..!
[ by : aris ]


