19 January 2004
Ada sebuah fenomena yang belum terungkap dalam squad PSS Laskar Sembada, setidaknya sampai dengan match days ke-4 kompetisi Liga Divisi Utama X berlangsung, tim Elang Jawa ini belum pernah merasakan indahnya sebuah kemenangan. Dengan 3 kali bermain imbang dan sekali kalah saat melawan PSMS Medan, membuat PSS Sleman berada pada papan bawah klasemen sementara atau tepatnya posisi 14 dengan nilai 3.
Kalau pada kompetisi tahun lalu, centre line PSS Sleman sangat disegani dan selalu diperhitungkan oleh lawan. Justru sekarang, lini yang vital ini menjadi titik kelemahan dan menjadi incaran lawan untuk membongkar pertahanan PSS Sleman. Koordinatasi lini pertahanan yang digalang Anderson da Silva dan Kahudi dengan posisi yang sejajar memberikan ruang kepada kedua wingback Ansori dan M-Sholeh untuk membangun serangan lewat sayap kanan dan kiri. Anehnya permainan cantik lewat sayap ini, menyebabkan disektor gelandang bertahan seolah-olah menjadi kosong, Wahyu Teguh atau Bona Simanjuntak harus sedikit mundur dari posisi yang ideal sebagai pemain jangkar saat membangun serangan dan bertahan, dan kondisi inilah yang membuat Deca dos Santor dipaksa harus bekerja keras untuk menjemput bola dari lini belakang. Karena space yang terlalu panjang dengan second striker, Deca yang menjadi libero di centre line memaksakan untuk melakukan long passing pada Seto Nurdiantoro atau langsung ke kedua striker. Nah, pola permainan yang demikian inilah yang mudah dibaca lawan dan kelihatan monoton.
Masuknya Alexander ‘lexi’ nampaknya menjadi kekuatan baru dan memungkinkan sang pelatih Daniel Roekito mengembangkan pola 4-4-2 menjadi fleksibel dan simpel, mengingat gelandang serang yang dimiliki The Slems bertipe ekplosif dan penuh inspiratif. Artinya, tugas Andersson dan Kahudi akan sedikit ringan pada saat ditekan lawan, karena M-Ansori dan Yuniarto Budhi akan melakukan marking bila serangan datang dari kanan, begitu sebaliknya bila digempur dari sektor kiri, M-Sholeh ataupun Wahyu Teguh memungkinkan untuk menghentikan laju serangan lawan sebelum berhadapan dengan stopper.
Begitu sebaliknya dalam menerapkan pola attacking foodboll yang dibangun dari belakang. Wahyu Teguh dan Yuniarto Budhi digelandang kanan mempunyai banyak pilihan untuk membangun serangan, bisa lewat wingback Ansori ‘Bagong’ yang memang skill dan kecepatannya tidak kalah dengan Agung Setiabudi atau Elie Boy di timnas. Jarak yang tidak terlalu jauh di lini belakang dengan gelandang bertahan, memungkinkan bagi Deca dos Santos untuk didorong agak ke depan berkolaborasi dengan Alexander dan Seto Nurdiantoro yang keduanya mempunyai akurasi tendangan langsung ke gawang lawan, dan inilah fungsi second striker yang diharapkan oleh Daniel Roekito.
Kalaupun Francis Wollo, M-Eksan atau Marcello belum produktif dalam mencetak gol, bukan berarti striker ini nandol, mungkin kesempatan yang belum ada atau masih perlu ketenangan dan ketajaman dalam menentukan jarak tendangan. 21 gol yang dikemas Marcello tahun lalu dan head sher Wollo di Divisi Satu adalah jaminan bahwa gol-nya tinggal menunggu waktu.
Fenomena inilah yang harus segera dipecahkan oleh arsitek Daniel Roekito, kelemahan koordinator di centre line inilah yang belum dapat digalang oleh Yuniarto Budhi dan Wahyu Teguh digelandang bertahan, kolaborasi antara Alexander dan Seto Nurdiyantoro yang dikomandani Deca dos Santos adalah syarat mutlak untuk membuka pertahanan lawan, dan kemenangan pertandingan saat menjamu Persela Lamongan dan Persebaya Surabaya di Stadion Tridadi Sleman sangat dinantikan oleh pendukung setia The Slems. Semoga kepulangan PSS Laskar Sembada ke Tridadi membawa berkah bagi perjuangan Deca dos Santos dkk, semoga ....
[ by : sri_qq ]


