Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








Home » News

Catatan Dari Perjalanan Pekanbaru

23 June 2003

Perjalanan ke Pekanbaru menempuh waktu 2 1/2 jam dengan perjalanan udara dengan transit melalui Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Dari udara di atas Pekanbaru tampak titik-titik api yang menyala akibat kebakaran hutan yang terjadi di Riau.

Sambutan baik dan hangat diberikan oleh panpel PSPS dengan obrolan dan penjelasan mengenai kota Pekanbaru. Keadaan kota Pekanbaru tidak yang seperti saya bayangkan. Dengan kekayaan sumber alam yang melimpah ternyata kota Pekanbaru termasuk kota kecil. Malahan sepintas kota Pekanbaru seperti kota Klaten atau Magelang dengan jalan raya yang tidak luas dan gedung yang tidak begitu tinggi.

Gegap gempita laskar pendukung PSPS yaitu Askyar Theking pun tidak terasa di dalam kota Pekanbaru. Tidak ada bendera atau spanduk dukungan kepada PSPS, bahkan orang berkaos Askyar Theing pun jarang terlihat. Mungkin ini dampak dari menurunnya prestasi PSPS.

Perjalanan ke hotel Risty Menara yang dipakai kubu PSS ditempuh sekitar 20 menit dari bandara. Hotel ini merupakan hotel yang beberapa hari sebelumnya dipakai oleh Persijatim Solo FC. Dari cerita pegawai hotel dan orang sekitar diperoleh informasi mengenai teror-teror yang diterima Persijatim di sana. Bahkan dari cerita diungkapkan para pemain Persijatim tidak berani keluar dari hotel. Mereka menerima teror sejak dari bandara serta tidak bisa mencoba lapangan stadion Rumbai karena hal tersebut.

Tetapi pengalaman itu tidak terjadi pada PSS waktu di sana.
Sabtu Sore para pemain PSS mencoba lapangan dengan berlatih di Stadion Rumbai. Perjalanan ke Stadion Rumbai memakan waktu lama sekitar 25 menit. Ternyata Stadion "asli" milik PSPS sebenarnya Stadion Hang Tuah yang telah dirobohkan sehingga mereka pindah ke Stadion Rumbai.

Jaraknya dekat sekitar 6 km, tetapi untuk kendaraan besar seperti bis dan truck tidak bisa melalui portal yang melewati sungai besar di Pekanbaru. Jadi bis rombongan pemain harus berputar sehingga jaraknya menjadi lebih jauh. Sekitar stadion Rumbai sendiri tidak tampak pemukiman penduduk, hanya ada 2 proyek yang belum selesai yaitu untuk GOR bulutangkis dan Kolam renang, selebihnya lahan yang penuh dengan pohon.

Lapangan stadion Rumbai bagus tetapi sebagian rumputnya kering karena mobil penyiram baru dikirim ke hutan untuk membantu pemadaman kebakaran sehingga rumput tidak tersiram dan kering. Kapasitasnya sebesar Mandala Krida. Ada 2 tribun tertutup sebelah Barat dan Timur, sedangkan belakang gawang merupakan tribun terbuka. Ketika mencoba berlatih di stadion Rumbai baru tampak antusiasme penonton Pekanbaru terhadap sepakbola. Sekitar 50-an penonton menonton sambil bertanya pemain itu siapa dan darimana. Sekitar 1 1/2 jam PSS berlatih di stadion Rumbai.

Hari Minggu pagi para pemain PSS mengadakan briefing menghadapi pertandingan. Siangnya para pemain sudah bersiap untuk bertanding. Dengan doa dari Mbah Sukidi dan wejangan dari Mbah Bardi, para pemain berangkat dengan menggunakan bis pariwisata milik Caltex yang disediakan panitia. Sampai Stadion sudah banyak penonton yang berada di depan pintu stadion seakan menunggu para pemain PSS.

Sewaktu para pemain PSS memasuki stadion ada beberapa penonton yang memanggil-manggil pemain seperti Coly, Marcello, dsb. Namun ada yang penonton yang nyeletuk " diperiksa itu tasnya, ada bongnya..... " namun para pemain cuek dan tidak mempedulikan. Memasuki ke lapangan, para pemain PSS disambut dengan yel-yel Askyar Theking "shabu.. shabu....shabu....." dan sebagainya.

Bahkan ketika para laskar Askyar Theking defile keliling lapangan mereka membawa spanduk "nyabu yook,mas" yang ditunjukkan ke para pemain PSS dan juga spanduk "wasit tidak adil = anjing". Untunglah ofisial dan pemain PSS menanggapi dengan dingin semua teror itu. Tidak hanya itu beberapa botol Aqua menghampiri box pemain PSS. Syukurlah tidak ada yang terkena waktu itu.

Pertandingan babak I PSS ditekan hebat oleh PSPS melalui Amir Yusuf, pemain asing PSPS Kalamen, Uston dan Kurniawan. Beruntung lini belakang dan kiper Edy Supriyadi tenang dan mampu menahan imbang PSPS di babak I. Babak II PSS mulai bermain dengan pola yang lebih jelas dan mulai menekan PSPS melalui Seto, Deka dan Anton. Tetapi sebuah bola terobosan untuk Kurniawan yang lolos diambil Edy Supriyadi bersamaan dengan Kurniawan sehingga wasit Yesayas menghadiahkan penalti untuk PSPS. Penalti diselesaikan dengan baik oleh Moses Nyeman stoper asing PSPS.

PSS tetap tidak mengendurkan serangan tetapi malah meningkatkan serangannya. Berawal dari lolosnya M Eksan di sisi kiri pertahanan PSPS, M Eksan kemudian mengirim bola setinggi pinggang ke depan gawang Mbeng Jean. Marcello yang di depan gawang tidak dapat menendang bola, beruntung ada Seto di belakangnya yang kemudian melakukan diving header ke gawang PSPS yang kosong 1-1. Waktu itu pula beberapa botol Aqua kembali menghampiri box pemain PSS. Setelah itu PSS pun mencoba bertahan dengan memasukkan Kahudi dan Akmal.

Beberapa kali juga terjadi peluang emas menit akhir melalui Slamet Riyadi dan M.Lessy, sayang kurang maksimal. Akhirnya PSS mampu membawa pulang 1 poin setelah wasit Yesayas meniup peluit panjang. Setelah pertandingan berakhir banyak penonton yang menghampiri pemain PSS untuk minta tanda tangan dan berfoto bersama para pemain PSS. Pertandingan berakhir tidak ada insiden dan teror lagi setelah itu. Para pemain pun kembali ke hotel.

Senin Siang para pemain PSS check-out dari hotel untuk pulang. Dengan membawa berbagai oleh-oleh untuk keluarga, bahkan untuk tetangga. Yang tinggal di Jakarta ada 4 pemain yaitu Akmal,Edy,Anton dan Suwita karena ada libur 2 hari. Senin Sore rombongan tiba di Yogyakarta dengan selamat.

[ by : benny-Slemania Militan ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar