04 April 2008
Dana Masih Bikin Ragu
Banyak klub yang masih gamang menatap kompetisi Divisi Utama 2008. Mayoritas mereka bingung mengenai pendanaan.
-------------------------------------------------------------
PERATURAN Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 59 tahun 2007 benar-benar menjadi "momok menakutkan" bagi klub sepak bola Indonesia. Sejak Permendagri itu keluar, klub-klub jadi gamang menatap kompetisi musim depan.Demikian pula klub-klub Divisi Utama. Dari 34 kontestan Divisi Utama 2008, sebagian besar diliputi kekhawatiran untuk menggunakan dana APBD.
Padahal, selama ini, klub-klub tersebut senantisa mengandalkan dari dana APBD. Rasan-rasan itulah yang mendominasi pembicaraan dipertemuan BLI (Badan Liga Sepak Bola Indonesia) dengan klub-klub Divisi Utama kemarin.
"Hampir semua klub memang bicara masalahnya masing-masing terkait soal dana," ungkap Joko Driyono, direktur kompetisi BLI. "Unek-unek itulah (dana, Red) yang memang menjadi masalah terbesar kami. Jadi tanpa komando, semuanya pun menuangkannya di sini," ujar Saleh Hanifah, asisten manajer Persebaya Surabaya.
Menurutnya, hampir sebagai besar klub tidak yakin bisa eksis tanpa APBD. Sebab, klub merasa sulit berubah seratus derajat dari keadaan sebelumnya.Apalagi, perubahan tersebut dilakukan dalam waktu dekat.Beban paling berat dipikul klub-klub dari daerah-daerah kecil.
Dari pengakuan Saleh, jangankan menggaet sponsor, sekedar mengandalkan hasil dari tiket penonton pun mereka ragu. Mereka masih sangat berharap dapat kucuran dari APBD. "Karena itu, tadi (kemarin, Red) semua sepakat meminta BLI untuk dimediatori bertemu Mendagri," jelas Saleh.
"Tujuanya tentu agar kami mendapat penjelasan mengenai payung hukum penggunaan dana APBD bagi sepak bola," imbuh Imam Priyono, manajer PSIM Jogjakarta.
Karena keraguan soal danapula, klub tak hanya meminta dimediatori bertemu Mendagri. Mereka juga meminta BLI agar pembagian grup dipikirkan ulang.Demi efiseinsi dana di tengah minimnya anggaran, mereka memohon agar grup dibagi tiga. Bukan dua seperti yang diwacanakan selama ini.
"Kami menampung masukan teman-teman. Kami juga akan mengusahakan untuk menfasilitasi pertemuan dengan Mendagri, " sebut Joko Driyono.
Meski siap menjadi fasilitator, tapi BLI juga memberi peringatan kepada klub. BLI berharap klub merubah cara pandangnya.
Salah satunya mengenai ekspektasi mereka yang terlalu muluk-muluk selama ini. BLI menyaranakan agar bisa klub bisa mengontrol ekspektasinya.
"Mereka harus berpikir sebatas kemampuannya. Jangan lebih. Misal dalam perekrutan pemain. Kalau anggaran kecil, ya jangan beli pemain yang mahal-mahal," tutur Joko.
"Namun, itu semua bukan berarti kualitas kompetisi digadaikan. Dengan berpikir cerdas, klub tetap bisa survive dan bertarung dengan kualitas mumpuni," tambah pria asal Ngawi, Jawa Timur, tersebut.
[ by : sumber jawapos.com ]


