28 March 2008
Momentum melakukan perubahan sudah berkali-kali diterima PSSI. Regulasi yang terlalu sering dilanggar dan dijebloskannya Ketua Umum PSSI Nurdin Halid karena tersandung kasus korupsi sehingga berbuntut demo suporter di Jakarta pada Selasa (25/3) lalu semestinya bisa menjadi titik awal untuk berbenah. Sayang, mereka masih terus bergeming. Soal regulasi yang mudah diakali, mereka terus memasang beragam alasan. Kasus Nurdin ditanggapi sebagai kasus di luar substansi olahraga sehingga tidak perlu diperhatikan. Meski, organisasi sepak bola level Asia, bahkan dunia, sudah terus mendesak agar segera dilakukan munaslub (musyawarah nasional luar biasa).
Suara keprihatinan juga sudah sering dilontarkan para pengamat sepak bola terhadap sikap pengurus teras PSSI yang terus "melindungi" Nurdin. Suporter pun sudah menunjukkan sikap dengan turun ke jalan.Namun, perubahan yang salah satu caranya dengan munaslub mungkin dilakukan apabila pemilik suara sepakat melaksanakan. Mereka adalah klub, pengurus daerah (pengda), dan pengurus cabang (pengcab). Sayang, sikap jantan masih belum terdengar. Mereka masih terkesan cari aman.
Kesan tersebut jelas-jelas terlihat dari berbagai opini yang dilontarkan para pengurus klub yang selalu menjadikan persiapan tim sebagai kambing hitam atau alasan. Bagaimana dengan PSS Sleman? Apakah pengurus PSS Sleman juga akan ikut diam dan bersikap adem ayem? Tentunya pertemuan manajer tim se-Jawa yang diprakarsai dan dilaksanakan di SLeman pad tanggal 28 Maret dapat dijadikan konsolidasi awal untuk menyuarakan pembaharuan PSSI dan sepak bola Indonesia secara tegas dan lebih berani. Ataukah justru PSS lebih memilih diam karena saat ini tengah berusaha mendapatkan bantuan dari PSSI agar bisa berlaga di Superliga. Kita tunggu kiprah manajemen dan pengurus PSS.
[ by : admin ]


