07 February 2007
perbincangan sepakbola bertemakan “Pendanaan Sepakbola Mandiri”yang diselenggarakan di Jogja Expo Center dalam rangka menyemarakkan Kompas Gramedia Fair Perbincangan pun mengarah dalam hal mengatasi pendanaan klub pascapelarangan dana APBD.
Acara yang berlangsung pada Jumat (2/2) itu menghadirkan Ketua Umum PSS sekaligus Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto, Herman Dodi (Anggota DPDR Kota Yogya), Indra Tranggono (Budayawan), serta wakil manajer Persiba Bantul, Soedjono, dan dipandu oleh reporter BOLA, Ary Julianto.
Ibnu tidak terlalu mengeluh dengan Keputusan Mendagri No. 13 2006. Ia menilai bahwa keputusan tersebut sudah tepat. Jika ingin disebut profesional, klub harus bisa mandiri. Sebagai solusi, ia berharap nantinya klub lebih tepat bila diposisikan sebagai BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang dituntut bisa menghasilkan keuntungan bagi daerah.
“Klub akan dibebani target sehingga akan ada aturan bisnis yang jelas. Klub harus punya daya tarik bagi sponsor. Karena itu, pencitraan perlu dibangun sebab klub kita masih belum punya branding yang bagus,” kata Ibnu.
Bagi Dodi, menuntut klub agar bisa profesional dalam waktu dekat merupakan hal yang sangat sulit. Soalnya kondisi perekonomian bangsa masih rumit, sementara kemampuan klub sendiri juga terbatas. Apalagi PSSI selaku induk sepakbola nasional juga belum mumpuni untuk mewujudkan sepakbola yang sehat.
“Saya lebih setuju apabila bantuan APBD tetap ada, namun nilainya disesuaikan dengan pendapatan daerah yang pengelolaannya wajib dilakukan secara transparan. Yang paling penting adalah menyembuhkan borok PSSI yang selama ini menjadi momok bobroknya sepakbola nasional,” jelas Dodi.
Soedjono, yang mewakili suara Persiba Bantul di forum ini, menegaskan bahwa tanpa APBD sepakbola nasional tidak akan mati.
“Sebenarnya tidak ada yang rugi jika klub tetap dibiayai APBD. Toh selama ini klub juga bisa menjadi salah satu media promosi, terlebih kalau klub tersebut punya prestasi bagus,” kata Soedjono.
Dari sudut pandang lain, Indra Tranggono melihat bahwa sepakbola Indonesia lebih berkaitan dengan masalah politis dibanding sport, sportivitas, budaya, dan industri. Sepakbola Indonesia juga masih belum menjadi bagian dari kebudayaan yang harus dipahami sebagai ilmu, bukan sekadar hobi.
“Ilmu mewajibkan kita untuk melakukan dua hal, yaitu belajar dan berlatih guna mengasah kecerdasan, intelektualitas, serta keterampilan teknis,” ucap budayawan Yogya ini.
Jalan keluar terbaik adalah klub harus bertindak profesional sehingga bisa menjadi perusahaan atau BUMD. Namun, sembari berjalan menuju ide itu, PSSI harus berbenah total dalam menjalankan fungsinya. Tidak seperti sekarang yang selalu berubah kebijakan dan seenaknya sendiri.
Jika hal itu bisa dilakukan, kultur sepakbola dan era profesionalisme bakal masuk yang diikuti dengan pembinaan yang tak terputus.
[ by : sb//crew ]


