21 February 2006
Liga Indonesia 1998/1999 merupakan tahun menyesakkan bagi Persiba Balikpapan. Dalam kompetisi yang dibayang-bayangi krisis moneter tersebut Persiba tergabung dalam Grup Timur yang diikuti oleh 6 tim. Melalui kompetisi yang ketat, mereka harus menempati juru kunci dan rela terdegrasi ke kasta kedua
Liga Indonesia hanya karena kalah selisih gol. Sama -sama mengoleksi 12 poin, Persiba memiliki selisih gol minus tiga, sementara dua saingannya Putra Samarinda, dan Persipura hanya minus satu gol. Dengan berat hati, Persiba Balikpapan harus meninggalkan kasta tertinggi kompetisi sepakbola nasional yang mereka tempati sejak tahun 1986.
Pada kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia 1999/2000, Persiba mencoba mengarungi kompetisi dengan modal squad lama. Kembali tergabung dalam grup Timur, kali ini Persiba diuntungkan dengan keunggulan selisih gol. Sama-sama mengoleksi 15 poin, Persiba memiliki selisih gol plus lima, mengungguli saingan terberatnya Persmin Minahasa yang hanya memiliki selisih gol plus dua. Dengan demikian Persiba mendampingi Persidafon Dafonsoro maju ke babak delapan besar.
Harapan untuk kembali ke Divisi Utama pun menyeruak, seiring dengan jatah empat tim promosi yang diberikan kepada tim divisi satu. Dengan semangat tinggi, tim berjuluk Beruang Madu ini datang ke Stadion Tridadi, Sleman tempat penyisihan Grup A Babak 8 Besar Divisi Satu digelar. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan, di pertandingan pertama mereka dipermalukan oleh tim tuan rumah dengan skor telak 1-6. Bomber PSS saat itu, M. Eksan tanpa ampun memberondong gawang Persiba lewat lima golnya yang tercipta pada menit ke-12, 55, 69, 72, dan 88. Tandem M.Eksan, Muslih menambah penderitaan Persiba dengan gol yang diciptakan pada menit ke-46, sementara Persiba hanya mencuri satu gol melalui kaki Andi Alfian. Akibat kekalahan besar tersebut mental pemain goyah, sehingga pada pertandingan selanjutnya, Persiba kembali dihantam dengan skor telak oleh Persita Tangerang. Persiba Balikpapan harus pulang dengan tertunduk setelah menjadi juru kunci dan bulan-bulanan lawannya.
Tahun tersebut menjadi semacam titik akhir bagi prestasi Persiba Balikpapan di Divisi satu. Tiga musim kompetisi Divisi Satu selanjutnya, Persiba tak lagi ditakuti lawan-lawannya dan hanya menjadi tim biasa-biasa saja. Hingga pada pentas Divisi Satu 2004 mereka menemui titik balik setelah ikut bersaing memperebutkan tiga jatah babak enam besar dari wilayah timur. Meski akhirnya hanya finish di posisi keempat, namun tak dinyana hal itu berbuah berkah. Lewat perubahan jumlah peserta liga, kembalilah kekuatan lama dari tanah Kalimantan tersebut ke Divisi Utama.
Sebagai representasi dari kota terbesar di Kalimantan, Persiba Balikpapan yang berdiri sejak 1950 ini merupakan tim perserikatan dengan prestasi terbaik di Kalimantan. Setelah menjuarai Divisi Satu Perserikatan pada tahun 1985, Persiba secara mantap berhasil bertahan di level tertinggi kompetisi perserikatan, sebelum tiga belas tahun kemudian mereka harus turun kasta. Tim ini dikenal memiliki kompetisi internal yang bagus sehingga tak pernah kekurangan stok pemain. Nama-nama seperti Ponaryo Astaman, dan M. Darwis, stoper Timnas Sea Games 2005 merupakan pemain yang dikembangkan di kompetisi internal Persiba.
Setelah kembali ke Divisi Utama, mereka juga mengembalikan pamor sebagai kekuatan yang ditakuti dari tanah Kalimantan. Pada Liga Indonesia 2005 mereka hampir saja lolos ke babak delapan besar sebelum akhirnya tergeser oleh Persebaya Surabaya di saat-saat akhir. Pada Liga musim ini pun, sang Beruang Madu mulai menunjukkan taringnya dengan berada di papan atas pada klasemen sementara. Dengan diperkuat dua pemain eks PSS, Kahudi Wahyu Widodo dan Talaohu Abdul Musafri, Persiba kembali hadir di stadion Tridadi Sleman. Persiba tentunya tak mau lagi dipermalukan, dan ingin menghapus memori kelam lima tahun lalu saat terbantai di stadion kebanggaan masyarakat Sleman tersebut. Kita lihat saja aksi mereka.
[ by : pei dari berbagai sumber ]


